Jumat, 09 Desember 2016

ANTIKOAGULAN

I. Dasar Teori
       Antikoagulan adalah zat yang mencegah penggumpalan darah dengan cara mengikat kalsium atau dengan menghambat pembentukan trombin yang diperlukan untuk merubah fibrinogen menjadi fibrin dalam proses pembekuan. Namun tidak semua jenis antikoagulan dapat dipakai karena ada beberapa antikoagulan yang dapat mempengaruhi  bentuk eritrosit atau leukosit yang akan diperiksa morfologinya. Pada pemeriksaan hematologi yang membutuhkan spesimen berupa whole blood dan atau plasma, maka sampel darah harus dikumpulkan dalam sebuah tabung yang berisi antikoagulan sehingga dengan pemberian antikoagulan darah tidak akan beku. Spesimen dan antikoagulan harus dicampur homogen serta segera setelah pengambilan spesimen untuk mencegah pembentukan microclot. Pencampuran yang lembut sangat penting untuk mencegah hemolisis. Jenis antikoagulan yang baik adalah yang tidak merusak komponen-komponen yang terkandung di dalam darah dan harus sesuai dengan jenis pemeriksaan yang diinginkan. Ada berbagai jenis antikoagulan, masing-masing digunakan dalam jenis pemeriksaan tertentu. Seperti EDTA, Heparin, Natrium Sitrat, Oksalat, dan lain-lain.
1. EDTA
      EDTA (ethylenediaminetetraacetic acid, [CH2N(CH2CO2H)2]2) adalah antikoagulan yang umumnya tersedia dalam bentuk garam sodium (natrium) atau potassium (kalium). EDTA mencegah koagulasi dengan cara mengikat atau mengkhelasi kalsium, sehingga tidak mempengaruhi sel-sel darah.
Ada tiga macam EDTA, yaitu dinatrium EDTA (Na2EDTA), dipotassium EDTA (K2EDTA) dan tripotassium EDTA (K3EDTA). Na2EDTA dan K2EDTA biasanya digunakan dalam bentuk kering, sedangkan K3EDTA biasanya digunakan dalam bentuk cair. Tiap 1 mg EDTA menghindari membekunya 1 mL darah. Umumnya untuk memudahkan pengukuran maka dibuat menjadi larutan 10% atau 4 %.
         Penggunaan disodium EDTA (Na2EDTA) biasanya dengan konsentrasi 1,4 – 2,0 mg/ml darah, dipotassium EDTA (K2EDTA) dengan konsentrasi 1,5 – 2,2 mg/ml darah, dan tripotassium EDTA (K3EDTA) dengan konsentrasi 1,5 - 2.,2 mg/ml darah. Bila jumlah EDTA kurang, darah dapat mengalami koagulasi. Sebaliknya, bila EDTA berlebihan, eritrosit mengalami krenasi, trombosit membesar dan mengalami disintegrasi yaitu trombosit membengkak sehingga tampak adanya trombosit raksasa yang pada akhirnya mengalami fragmentasi membentuk fragmen-fragmen yang masih dalam rentang pengukuran trombosit oleh alat hitung sel otomatis sehingga dapat menyebabkan peningkatan palsu jumlah trombosit.
         Penggunaan EDTA biasanya pada saat darah dimasukkan ke dalam tabung, segera lakukan pencampuran/homogenisasi dengan cara membolak-balikkan tabung dengan lembut sebanyak 6 kali untuk menghindari penggumpalan trombosit dan pembentukan bekuan darah.
2. Heparin
      Heparin merupakan antikoagulan yang normal dalam tubuh, namun di laboratorium heparin jarang digunakan dalam pemeriksaan-pemeriksaan di laboratorium karena mahal harganya. Heparin berdaya seperti antitrombin. Heparin bekerja dengan cara menghentikan pembentukan trombin dari protrombin sehingga menghentikan pembentukan fibrin dari fibrinogen. Heparin tidak mempengaruhi bentuk eritrosit maupun trombosit. Jenis heparin yang paling banyak digunakan adalah Lithium Heparin karena tidak mengganggu analisa beberapa macam ion dalam darah. Heparin tidak bisa digunakan untuk membuat apusan darah karena menyebebabkan dasar yang biru kehitaman bisa dicat dengan cat wright stain. Tiap 1 mg Heparin menjaga membekunya 10 mL darah.
          Pemeriksaan Hematologi yang Menggunakan Antikoagulan Heparin yaitu
a. Penentuan hemoglobin
b. Penentuan hematokrit
c. Penentuan resistensi osmotic
d. Penghitungan sel-sel darah
e. Penentuan golongan darah
f. Transfusi darah
3. Natrium Sitrat
      Natrium Sitrat (Trisodium Citrat) yang digunakan berbentuk larutan 3,2% dan 3,8%. Antikogulan ini mencegah pembekuan dengan cara mengikat ion kalsium. Banyaknya Natrium Sitrat yang digunakan:
a. Larutan Natrium Sitrat 3,2% digunakan untuk pemeriksaan soal-soal proses pembekuan darah (koagulasi) dan agregasi trombosit. Perbandingan volume antikoagulan dengan darah yaitu 1:9.
b. Larutan Natrium Sitrat 3,8% digunakan pemeriksaan Laju Endap Darah dan Eritrosit Sedimen Rate (ESR). Perbandingan volume antikoagulan dengan darah yaitu 1:4.
4. Campuran Ammonium Oksalat dan Kalium Oksalat
        Nama lainnya dalah Balance Oxalat Mixture atau antikoagulan dari Heller dan Paul. Antikoagulan ini mengandung ammonium oxalat dan kalium oxalat dengan perbandingan 3:2. Kalium oxalat menyebebkan eritrosit mengkerut, sedangkan ammonium oxalat menyebabkan eritrosit mengembang. Campuran kedua garam tersebut bertujuan untuk menghindari perubahan volume eritrosit.
           Banyaknya Antikoagulan Double Oxalat yang digunakan:
Double oxalat kering : 2 mg Double oxalat/1 ml darah
Double oxalat cair 2%: 0.1 ml Double oxalat/1 ml darah

II. Tujuan
Untuk mengetahui cara kerja penggunaan antikoagulan EDTA pada pengambilan sampel darah vena.

III. Prinsip Kerja
Darah vena diambil dengan cara melakukan penusukan pada pembuluh darah vena, darah akan masuk pada ujung semprit, dilanjutkan dengan menarik torak/piston sampai volume darah yang dikehendaki.

IV. Alat dan Bahan
1. Alat
a. Semprit
b. Tourniquet
c. Kapas
d. Plester
e. Gunting
f. Botol sampel
g. Pipet tetes
2. Bahan
a. Larutan EDTA
b. Alkohol 70%

V. Cara Kerja
1. Alat-alat yang diperlukan disiapkan di atas meja.
2. Dimasukkan larutan EDTA % ke dalam botol sampel. Misalnya 
3. Diperiksa keadaan pasien, diusahakan pasien tenang begitu pula petugas (Phlebotomis).
4. Ditentukan vena yang akan ditusuk, pada orang gemuk atau untuk vena yang tidak terlihat dibantu dengan menggunakan tourniquet.
5. Diperhatikan dengan seksama daerah vena yang akan ditusuk.
6. Didesinfeksi tempat penusukan dengan Alkohol 70% dan dibiarkan kering.
7. Dipasang tourniquet pada lengan atas (bagian proximal lengan) 6–7 cm dari lipatan tangan.
8. Tegakkan kulit di atas vena dengan jari-jari tangan kiri supaya vena tidak bergerak
9. Dengan lubang jarum menghadap ke atas, kulit ditusuk dengan sudut 45–60ยบ sampai ujung jarum masuk lumen vena yang ditandai dengan berkurangnya tekanan dan masuknya darah ke ujung semprit.
10. Ditarik holder secara perlahan-lahan sampai volume darah yang diinginkan.
11. Dilepas torniquet, kapas diletakkan di atas jarum dan ditekan sedikit dengan jari kiri, lalu jarum ditarik.
12. Pasien diinstruksikan untuk menekan kapas selama 1–2 menit dan setelah itu bekas luka tusukan diberi plester.
13. Jarum ditutup lalu dilepaskan dari semprit
14. Dimasukkan darah ke dalam botol atau tabung penampung melalui dinding secara perlahan.
15. Dicampur segera secara perlahan-lahan dengan arah memutar.
16. Diberi label pada botol sampel.
17. Sampel darah siap digunakan untuk pemeriksaan.

VI. Hasil
Dari praktikum yang telah dilakukan, didapat darah vena sebanyak 2 ml, dan setelah dicampur dengan ml larutan EDTA %, darah tidak meggumpal.
Sebelum pencampuran darah dengan EDTA, dibuat larutan stok EDTA 10% (10 gram dalam 100 ml), kemudian diencerkan menjadi 4% sebanyak 50 ml.
N1.V1   =N2.V2
10%.V1 =4%.50 ml
V1         =20 ml
Dipipet 20 ml larutan EDTA 10% kemudian dimasukkan ke dalam wadah sampai volumenya 50 ml. Untuk mengetahui kandungan EDTA tersebut, dilakukan perhitungan sebagai berikut:
4% = 4 gr dalam 100 ml
      = 4000 mg dalam 100 ml
Untuk 1 mg EDTA 4% setara dengan:
1 mg EDTA = 1 mg/4000 mg x 100 ml
                     = 0,025 ml EDTA 4%
Jadi, untuk 2 ml darah yang diambil diperlukan 2x0,025 ml EDTA 4%=0,05 ml EDTA 4%.

VII. Kesimpulan
Dari praktikum yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa antikoagulan sangat penting dalam pemeriksaan yang menggunakan sampel darah vena karena dapat mencegah terjadinya penggumpalan pada darah yang dapat menghambat pemeriksaan secara mikroskopis. Antikoagulan EDTA sebaiknya disiapkan sebelum pengambilan sampel darah vena dengan perbandingan 1 mg EDTA dengan 1 ml darah.

Kamis, 13 Agustus 2015

Pewarnaan Spora



PEWARNAAN SPORA

A.   Tujuan
Untuk mengetahui cara kerja pengamatan mikroba dengan pewarnaan spora sehingga dapat ditemukan jenis-jenis mikroba dengan bentuk sporanya.

B.     Alat dan Reagensia
1.      Alat

a.       Mikroskop
b.      Beaker glass
c.       Batang pengaduk
d.      Kompor
e.       Objek glass
f.       Ose
g.      Bunsen/lampu spiritus
h.      Korek api
i.        Kapas
j.        Batang besi
k.      Bak pengecatan
l.        Lap/tissue
m.    Masker

2.      Reagensia

a.       Oil imersi
b.      Malchite green
c.       Safranin
d.      Tanah
e.       Aquadest


C.   Cara Kerja
1.      Lap obyek glass yang akan digunakan, lalu panaskan di atas lampu spiritus hingga bersih dan tak ada uap yang menempel.
2.      Buat preparat dari biakan mikroba yang berasal dari sampel tanah yang telah dimasak. Gunakan ose lalu lakukan fiksasi.
3.      Teteskan larutan Malachite Green pada preparat hingga seluruh permukaan tertutup.
4.      Letakkan objek glass di atas bak pengecatan, lalu diobori menggunakan batang besi yang telah dililit kapas dan diberi cairan spiritus hingga keluar uap. Jika bagian pinggir mulai mengering, tambahkan lagi dengan Malachite Green.
5.      Dinginkan preparat 10-15 menit.
6.      Cuci di bawah air mengalir.
7.      Teteskan preparat dengan Safranin selama 3 menit.
8.      Cuci di bawah air mengalir, dan dikering anginkan.
9.      Amati spora mikroorganisme di bawah mikroskop dengan perbesaran obyektif 100x.

D.   Hasil Pengamatan
Pada saat pengamatan, dapat dilihat bakteri berspora memiliki ciri-ciri berbentuk diplobasil dan streptobasil dengan spora berwarna hijau. Spora bakteri ada yang berada di bagian ujung (spora terminal) dan dibagian tengah (spora sentral dan spora oval).


E.   Kesimpulan
Dari percobaan yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa spora akan terbentuk jika bakteri berada dalam keadaan yang tidak memungkinkan untuknya, yaitu pada keadaan panas, kering, radiasi, dan adanya bahan kimia. Spora yang terbentuk ada bermacam-macam, yaitu spora terminal, spora subterminal, spora sentral, spora oval, dan ada juga spora yang membuat bagian sel bakteri mengembang. Larutan Malachite green akan mewarnai spora menjadi hijau dan bentuk bakteri beragam dengan warna merah dari Safranin.

Pewarnaan Gram

PEWARNAAN GRAM
A.   Tujuan
Untuk mengetahui cara kerja pengamatan mikroba dengan pewarnaan gram.

B.   Alat dan Reagensia
1.      Alat
a.       Mikroskop
b.      Obyek glass
c.       Ose
d.      Bunsen/lampu spiritus
e.       Korek api
f.       Lap/tissue
g.      Masker
2.      Reagensia
a.       Oil imersi
b.      Larutan gram A (Gantian Violet)
c.       Larutan gram B (Lugol)
d.      Larutan gram C(Aseton)
e.       Larutan gram D (Safranin)
f.       Aquadest
g.      Tanah yang telah dimasak

C.   Cara Kerja
1.      Lap obyek glass yang akan digunakan, lalu fiksasi di atas lampu spiritus hingga bersih tak ada uap yang menempel.
2.      Buat preparat dari tanah yang telah dimasak, gunakan ose, lakukan fiksasi.
3.      Teteskan larutan gram A (Gantian Violet) pada preparat hingga seluruh permukaan tertutup dan tunggu ±1 menit.
4.      Cuci di bawah air mengalir hingga air dari larutan yang berwarna ungu hilang.
5.      Teteskan larutan gram B (Lugol) pada preparat hingga seluruh permukaan tertutup dan tunggu ±1 menit.
6.      Cuci di bawah air mengalir.
7.      Teteskan sedikit larutan gram C (Aseton) sebagai larutan pemucat pada preparat.
8.      Cuci di bawah air mengalir.
9.      Teteskan larutan gram D (Safranin) pada preparat hingga seluruh permukaan tertutup dan tunggu ±1 menit.
10.  Cuci di bawah air mengalir hingga air dari larutan yang berwarna merah hilang.
11.  Keringkan preparat dengan menggunakan tissue yng ditempelkan pada sisi ulasan (jangan merusak ulasan) dan biarkan hingga kering.
12.  Amati mikroorganisme di bawah mikroskop dengan perbesaran obyektif 100x.

D.   Kesimpulan
Dari percobaan di atas, dapat disimpulkan bahwa prosedur pembuatan preparat dengan pewarnaan gram harus dilakukan dengan teliti, terutama pada penggunaan larutan gram C (aseton), karena jika penggunaannya berlebihan, akan menyebabkan sel gram positif tampak sebagai sel gram negatif. Tetapi tidak juga terlalu sedikit yang akan menyebabkan sel gram negatif tampak seperti sel gram positif.

Pewarnaan BTA


PEWARNAAN BAKTERI TAHAN ASAM

A.    Tujuan
Untuk mengetahui cara kerja pengamatan bakteri tahan asam.

B.     Alat dan Reagensia

1.      Alat
a.       Mikroskop
b.      Beaker glass
c.       Lidi
d.      Batang besi
e.       Kompor
f.       Objek glass
g.      Ose
h.      Bunsen/lampu spiritus
i.        Korek api
j.        Kapas
k.      Batang besi
l.        Bak pengecatan
m.    Lap/tissue
n.      Masker
2.      Reagensia
a.       Oil imersi
b.      Larutan Zn A
c.       Larutan Zn B
d.      Larutan Zn C
e.       Alkohol
f.       Lisol
g.      Aquadest

 
C.    Cara Kerja
1.      Lap obyek glass yang akan digunakan, lalu panaskan di atas lampu spiritus hingga bersih dan tak ada uap yang menempel.
2.      Aduk sampel sputum menggunakan lidi kemudian ambil menggunakan lidi tersebut.
3.      Buat preparat dari sampel sputum tersebut di atas obyek glass berbentuk lingkaran dengan diameter ±2x3 cm. Kering anginkan preparat. Sisa lidi dimasukkan dalam larutan alcohol yang berisi lisol.
4.      Teteskan larutan Zn A pada preparat hingga seluruh permukaan tertutup.
5.      Letakkan objek glass di atas bak pengecatan, lalu diobori menggunakan batang besi yang telah dililit kapas dan diberi cairan spiritus hingga keluar uap. Atau dapat pula dengn cara meletakkan preparat di atas uap air panas.
6.      Dinginkan preparat 3-5 menit.
7.      Cuci di bawah air mengalir.
8.      Teteskan preparat dengan larutan Zn B selama 30 detik.
9.      Cuci di bawah air mengalir.
10.  Teteskan preparat dengan larutan Zn C selama 20-30 detik.
11.  Cuci di bawah air mengalir. Keringanginkan.
12.  Amati mikroorganisme di bawah mikroskop dengan perbesaran obyektif 100x.
13.  Lakukan pembacaan hasil menggunakan skala IUATLD atau skala Bronchus.
Skala IUATLD
a.       Tidak ditemukan BTA dalam 100 lapangan pandang      : -
b.      Ditemukan 1-9 BTA dalam 100 lapangan pandang         : ditulis jumlah BTA
c.       Ditemukan 10-99 BTA dalam 100 lapangan pandan       : +
d.      Ditemukan 1-10 BTA dalam 1 lapangan pandang           : ++
e.       Ditemukan >10 BTA dalam 1 lapangan pandang                       : +++
Skala Bronchus
a.         Tidak ditemukan BTA setelah pengamatan selama 15 menit      : -
b.        Ditemukan 40 BTA setelah pengamatan selama 15 menit           : +
c.         Ditemukan 20 BTA dalam 10 lapangan pandang                        : ++
d.        Ditemukan 60 BTA dalam 10 lapangan pandang                        : +++

D.    Hasil Pengamatan
Pada saat pengamatan, dapat dilihat BTA berbentuk batang berwarna merah. Bakteri ini akan dapat terlihat jika pengamat benar-benar fokus karena BTA yang terlihat agak samar-samar. Ada BTA yang bergerombol di satu titik dan ada juga yang menyebar.